Friday, May 7, 2010

Tiara, Tim, dan Rumah Kuno (Chapter 01)

Aku keluar dari mobil, terhuyung-huyung –aku selalu mabuk dalam perjalanan– sambil menatap rumah baru yang ada di hadapanku, dan tentu saja pastilah sebentar lagi akan kutempati bersama keluargaku. Lumayan bagus, lebih bagus dari yang kubayangkan sebelumnya. Keluargaku terpaksa pindah ke sebuah kota kecil jauh dari tempat tinggal kami yang dulu. Tentu saja itu karena ayah pindah kerja. Mau tidak mau aku juga harus ikut, walaupun itu berarti perpisahan dengan teman-temanku. Menyedihkan memang, tapi setelah kupikir-pikir, tidak ada salahnya juga mencoba mencari teman baru.

Aku mengamati rumah itu dengan seksama. Rumah itu dikelilingi halaman yang luas tetapi agak tak terurus – maklum, sudah lumayan lama sejak penghuninya yang lama pindah – tapi semua itu tertutup dengan adanya rumah bertingkat dua yang bercat putih. Kelihatannya seperti rumah impian, apalagi di salah satu sudut halaman itu terdapat pohon ek yang kelihatan rindang.

Aku segera memanggil Tim, adik laki-lakiku yang berumur 12 tahun. Dia masih di dalam mobil, tertidur dengan pulas di jok belakang. “Hei, kita sudah sampai. Cepat bangun, tukang tidur!!” teriakku di dekat telinganya. Tentu saja dia langsung terbangun, merepet-repet seperti nenek tua yang panik, dan kemudian menatapku dengan sedikit jengkel.

“Tidak bisakah kakak membangunkanku dengan sedikit lembut?” gerutunya.

“Tidaaa..aak, aku tidak bisa! Dan cepat keluar! Kita harus membantu dad dan mum mengatur rumah!”, ujarku dengan jengkel. Tim menggerutu, tapi tetap saja dia langsung mencari sepatunya di bawah jok tempatnya tidur, memakainya, dan langsung keluar. Setelah berjalan agak jauh di depanku, dia berbalik dan berteriak, “Tiara jelek!!”, dan langsung lari menuju ke dalam rumah.

Aku jelas saja menjadi jengkel, tapi sekarang aku tidak mau membuat masalah. Karena itu, kali ini aku tidak mengejarnya seperti yang biasa kulakukan. Dan ini tampaknya membuat Tim merasa heran, karena dia segera berbalik kembali dan berlari ke arahku. “Kakak sakit ya?” ujarnya sambil memegang dahiku.

“Tidak, cuma memikirkan teman-teman lamaku, dan juga rumah ini. Kelihatan bagus ya!”

“Yeah, aku juga sependapat. Oh ya, coba lihat kesana! Kira-kira bagaimana ya, penghuninya...” Tim menunjuk sebuah rumah tua, tak begitu jauh, masih dapat terlihat jelas dari tempatku berdiri.

Rumah itu kelihatan aneh kalau dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Warnanya gelap, dan pekarangannya jauh lebih berantakan daripada rumah yang akan kutinggali sekarang. Kelihatannya sangat mengerikan, seperti pada film-film horor yang menyajikan rumah nenek sihir di dalamnya. Bedanya rumah ini berada di keramaian, dan itu jelas terlihat karena banyak ibu-ibu yang asyik berbicara di sebelah rumah itu, yang tiba-tiba salah seorang di antaranya tertawa terbahak-bahak – bukan sikap selayaknya wanita, menurutku – dan ia melanjutkan lagi ocehannya, terlalu bersemangat, sehingga terkadang ibu-ibu yang lain tersembur ludahnya. Ewww, terlalu menjijikkan untuk seorang wanita yang berpenampilan bagus sepertinya...

Aku menghela nafas, berbalik, dan menjewer Tim. “Ayo, kita masuk. Tidak ada waktu lagi. Kita harus membereskan rumah atau Mum akan membuat kita lapar malam ini...”

“Okay! Okay! Tapi berhenti menjewerku! Sakit tahu!!”, ujarnya sambil memegang telinganya yang tadi kujewer. Aku tidak perduli, dan langsung melangkah masuk ke rumah.

***********************

Hari itu sungguh panas, aku bersama Mum, Dad, dan Tim membersihkan halaman yang penuh dengan rumput aneh yang cukup tinggi, namun tak sulit untuk melewatinya. Aku paling benci kalau disuruh membersihkan halaman seperti ini. Aku lebih memilih untuk mengatur rumah –bahkan aku lebih memilih untuk mengangkat sofa!– daripada harus bergulat dengan gunting dan sarung tangan kebesaran hanya untuk melenyapkan pengganggu ini. Aku mendesah dalam-dalam, tanpa menutupinya. Itu tentu saja membuat Tim yang berada di dekatku menoleh dan memandangku dengan pandangan tajam dan dahi mengerut. Aku mengacuhkannya. Tak ada waktu untuk melayaninya sekarang, sementara kulitku mulai terbakar teriknya matahari.

Lagi-lagi aku mendesah, dan ini sepertinya membuat Tim sangat jengkel. “Hei, bisakah kakak berhenti mendesah atau aku taruh cacing-cacing ini di rambut kakak? Kakak membuat belalangnya terbang, tahu! Padahal tadi aku hampir menangkapnya!” Tim merengut sambil memegang beberapa cacing gemuk di tangannya, siap melemparnya padaku. Dia tahu kalau aku benci cacing, dan aku tahu kalau sekarang ini dia sedang mengancamku.

Aku beranjak bangkit, dan menatap adikku itu dengan marah. “Fine, aku pergi sekarang. Jangan salahkan aku kalau aku bilang ke Mum kalau kau yang menyuruhku pergi!”

“Tapi aku tidak menyuruhmu per... Heeei!!” dia berteriak ketika aku menghampiri Mum. Aku meminta agar aku dapat tugas di dalam rumah saja, dan Mum tahu kalau aku memang tidak suka berjemur. Beliau menyuruhku mengatur sendiri kamarku karena kemungkinan besar kamarkulah yang akan diatur terakhir kali. Dengan senang aku menghampiri Tim, dan berkata, “Sudah kukatakan pada Mum, terima kasih atas bantuanmu, adikku sayang!” ujarku sambil nyengir. Tampak jelas pada raut wajahnya kalau dia mengira aku mengadukannya. Tanpa menjelaskan apapun, aku masuk ke dalam rumah, meninggalkan Tim dengan raut wajahnya yang aneh itu.

Aku segera menuju ruangan yang sudah diatur sebagai kamarku. Kamar di lantai dua dengan jendela lumayan besar menghadap ke halaman depan yang cocok dengan kebiasaanku melihat bintang di malam hari. Aku mulai mengatur kamarku. Aku memang sering dipercayai Mum untuk mengatur kamarku sendiri karena aku melakukannya dengan sangat baik. Hal ini sering dianggap aneh oleh adikku karena aku memiliki kebiasaan mengatur rumah yang sangat bertolak belakang dari diriku yang tom-boy, cuek, dan sering bicara apa adanya. Yeah, aku memang seperti itu, namun itu tidak membuat penampilanku seperti anak-anak lelaki lainnya. Aku tetap kelihatan seperti anak cewek umumnya, bahkan feminin. Malah kacamata minus empat setengah yang kugunakan tidak membuatku terlihat konyol.

Aku berharap ada yang membantuku menggeser tempat tidurku ke sudut dekat jendela, jadi aku bisa tidur di bawah bintang dan bangun karena cahaya matahari pagi. Aku memanggil Tim lewat jendela, memintanya untuk ke kamarku sebentar. Ia jelas kesal, karena kulihat tangannya yang tadi tertutup rapat jadi terbuka karena terkejut. Ia segera berlari ke dalam, dan dalam hitungan beberapa detik ia telah sampai di kamarku.

“Apa yang kakak mau? Padahal tadi aku sudah mendapatkan seekor belalang keren yang ingin kupamerkan ke Dean. Kakak mengejutkanku dan akhirnya hilanglah harapanku untuk melihatnya terkagum-kagum!”

“Dean?” tanyaku. Aku tak pernah ingat kalau Tim punya seorang teman bernama Dean.

“Yeah, anak kurus yang tinggal di rumah sebelah. Dia sangat baik padaku, anaknya sopan, periang, asyik diajak bermain.” ujarnya, melupakan kemarahannya padaku.

“What? Kapan kalian kenalan? Kita baru saja pindah dan kau sudah mendapatkan teman baru? Aku tidak melihat anak itu tadi, waktu membersihkan halaman.”

“Yeah, kakak tidak melihatnya karena aku berkenalan saat kita baru sampai tadi. Well, ada apa sih, manggil-manggil aku segala?” tanyanya.

“Aku butuh bantuanmu. Tolong kau angkat bagian itu dan...” Tiba-tiba aku terdiam.

“And? Kenapa sih, ngomong koq setengah-setengah? Ada apa?”. tukas Tim. Aku tidak mengacuhkannya. Aku merasa bulu kudukku berdiri. Ada yang mengawasiku! Atau perasaanku saja ya? Aku masih berdiri di depan jendelaku yang terbuka. Kuamati semua yang ada di luar, termasuk nyonya gemuk tadi yang masih tertawa-tawa –terbahak-bahak, maksudku– dan akhirnya menemukan seorang anak kurus yang menatapku dengan aneh. Sepertinya aku mengenalnya, tapi tak tahu dimana. Dan perasaanku aku sudah lama sekali mengenalnya...

“Ah, itu Dean! Hei, Dean!!!” adikku melambai-lambai ke arah anak kurus tadi. Anak itu membalas lambaiannya, lalu berteriak, “Tim! Itu kakakmu Tiara ya? Boleh aku masuk ke dalam?”

“Yeah, masuk saja! Tapi pastikan sepatumu tidak berlumpur seperti tadi, or Mum akan marah padaku!”

“Roger!!” teriak Dean sambil memberi hormat bak sersan pada komandannya. Ia langsung melesat masuk. “Aneh, seingatku aku tak pernah mengenalkan kakak padanya...” ujar Tim. Dean masuk ke kamarku, dan tiba-tiba saja langsung memelukku. “Lama nggak ketemu ya, Tiara!”.

Aku terdiam. Eh? Siapa??


**To be Continued**


(a/n)
Ini merupakan cerita yang pertama kali saya tulis ketika saya masih kelas satu SMA. Ntah kenapa tiba-tiba saya ingin melanjutkannya lagi. Well, kita lihat saja nanti (seperti biasa). :9

Karakter yang terpikirkan oleh saya sejauh ini:
Tiara Amelia Kurkovsky (14 y.o)
Timothy Jean Kurkovsky (12 y.o)
Dean Stewart (13 y.o)
Mr. and Mrs. Kurkovsky (42 and 37 y.o)
Mrs. Joanne (56 y.o)

That's it. Sampai chapter berikutnya! :D

9 comments:

  • ayu said...

    ini cerita horor?
    aaaaaa~

    antara penasaran tapi kalo ceritanya gaib2 aku takuuut bacanya. hahah.

    Erika Paraminda said...

    well, kalo boleh jujur..
    Minda udah pernah baca cerita ini..
    :p

    Waktu hanny presentasi mitigasi bencana, terus laptopnya nganggur, minda membuka folder cerita, (muhaha penjahat banget diriku ini)

    Maaf.. T.T habis ga ada kerjaan waktu itu..
    Can't wait for the next chapter.. :D

    honey said...

    @ayu
    iya yuu, ini cerita rada gaib. tapi ngga bakalan nyeremin koq. hahaha. xD

    @minda
    hahahah, ditunggu ya chapter selanjutnya~ :D

    emje almedine said...

    whaaaa,,, sbenernya udh bc dr kmaren,
    tp bru komen skrg cz mati lampu wktu itu :(

    bgus, bgus, bgus,,
    jadi teringat Casper :D

    bahasanya spt trjemahan, but i love it!

    dtunggu klnjutannya,,

    icha, said...

    kayak baca lima sekawan lagi hanny,
    hehehe,,
    ditunggu lanjutannyaaaa,,
    =D

    honey said...

    @emje
    ahaha, kaya terjemahan yaa? aku kebanyakan baca novel terjemahan sepertinya. :9

    @icha
    kali ini cuma tiga sekawan cha. :D

    Syndi Octakomala Dewi Surya said...

    aku udah komen tapi ko belom ada y? *sepertinya waktu itu internetnya error lg...

    ceritanya menarik haniii... kalimat demi kalimat selalu bikin penasaran utk baca selanjutnya... ditunggu cerita selanjutnya :)

    honey said...

    makasi syndiii! xD
    hehe, tunggu chapter selanjutnya yaa. atau cerita lain, whichever comes first. :9

    Anonymous said...

    mana lanjutanx????

  • Post a Comment